Posted by : Unknown Tuesday, May 3, 2016



Oleh : Lisa Aprilia




 
 Photo Source : http://www.kunciwisata.com 

Belakangan ini, banyak sekali pulau-pulau kecil di Indonesia yang terancam akan hilang atau tenggelam. Hal ini di sebabkan oleh adanya abrasi dan pemanasan global. Salah satunya seperti Pulau Pramuka. Pulau Pulau adalah sebuah pulau kecil nan eksotis yang terdapat pada gugusan Kepulauan Seribu.

 Diperkirakan, dalam beberapa puluh tahun mendatang mungkin kita tidak lagi menjumpai keeksotisan Pulau Pramuka. Bahkan tak hanya Pulau Pramuka. Banyak pulau-pulau kecil Indonesia yang terancam hilang akibat abrasi, penambangan pasir, naiknya permukaan air laut serta kerusakan alam lainnya apabila kita tidak menjaganya dengan baik.

Abrasi sendiri adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Namun, terdapat cara-cara untuk mencegah terjadinya abrasi, salah satunya dengan penanaman hutan mangrove di bibir pantai pulau.

Seperti Program Green Belt (Sabuk Hijau) yang dicanangkan oleh instansi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu sejak tahun 2002 di bawah Kementrian Kehutanan. 

“Program Green Belt adalah sebuah program penanaman pohon mangrove di sekeliling pantai pulau dalam gugus Kepulauan Seribu. Fungsinya untuk mencegah abrasi dan agar luasan wilayah dari Kepulauan Seribu daratannya menjadi tidak berkurang,” tutur Mohammad Ferdiansyah, Polisi Kehutanan yang mengawasi program Green Belt.

“Sampai tahun ini sudah terdapat sekitar 50-60 pulau yang sudah ditanami pohon mangrove dari 78 pulau di dalam Taman Nasional Laut, yang salah satunya adalah Pulau Pramuka,” lanjutnya.

Pohon mangrove lebih dikenal dengan nama pohon Bakau (Rhizophora stylosa). Pohon mangrove sendiri terdapat beberapa jenis, seperti Avicennia marina (Forssk.) Vierh, Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lam., Bruguiera cylindrica (L.) Blume, dll.

Namun, yang ditanam dalam program konservasi ini hanyalah pohon bakau (Rhizophora stylosa). Karena dilihat dari media Kepulauan Seribu yang hanya berupa pasir, bukan lumpur. Serta pohon bakau merupakan tanaman tingkat tinggi karena pohon bakau dapat tahan dengan kadar garam yang tinggi. 

Metode penanaman pohon bakau ini menggunakan metode rumpun berjarak. Yang dalam 1 rumpun tersebut terdapat 500 batang pohon bakau. Jadi kalau di darat, setiap 1 rumpun equivalen dengan 1 hektar.
Metode rumpun berjarak termasuk metode yang efektif dalam penanaman pohon bakau. Karena dalam metode ini pohon-pohon bakau yang ditanam dapat saling rapat atau menjaga, jadi tidak akan tergoyahkan (jatuh) apabila terkena arus ombak.

“Cara penanaman pohon bakau adalah dengan mengambil bibit bakau yang telah jatuh dari pohonnya ke laut. Kemudian kita seleksi dan dimasukan (direndam) kedalam air laut kurang lebih selama 1 minggu. Selanjutnya, baru kita tanam ke media tanam,” kata Mohammad Ferdiansyah menjelaskan tahap-tahap penanaman pohon bakau.

“Sebelum ditanam ke laut, kita melakukan penyesuaian dengan disiram air tawar untuk memancing pertumbuhan daun. Setelah 3 bulan baru muncul daun sebanyak 4 helai, 3 bulan kemudian lagi baru kita tanam ke laut. Setelah pohon bakau tumbuh sekitar 50 cm, barulah kita tanam ke alam bebas,” lanjutnya.

“Untuk perawatan pohon bakau selanjutnya adalah dengan menjaga sampah-sampah di laut. Apabila sampah menghalangi akar nafas dari pohon bakau, otomatis pohon bakau tersebut akan mati. Oleh karena itu, kita rutin melakukan perawatan untuk pembersihan sampah dari akar nafas,” ujar Mohammad Ferdiansyah.

Maka dari itu, setiap wisatawan yang datang ke Pulau Pramuka ini diharapkan untuk tidak membuang sampah sembarangan ke laut. Hal ini bertujuan untuk membantu melestarikan pohon-pohon mangrove yang telah di tanam di sekitar pantai dan menjaga kehidupan biota laut yang telah ada.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © I + You = We Love Earth - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -